Selasa, 29 November 2016

islam sebagai dasar negara

ISLAM SEBAGAI DASAR NEGARA
Oleh
Ratni Sari R. Kuka

Setiap peringatan hari pahlawan 10 november, pemerintah selalu  memberikan penghargaan kepada mereka yang  dianggap berjasa kepada bangsa dan negara indonesia. Tahun ini, pemerintah memberi gelar pahlawan nasional kepada lima orang. Ada kristen, hindu, dan muslim.Salah satu tokoh penerima gelar tersebut adalah Ki Bagoes Hadikoesoemo. Ia adalah tokoh penting dalam perjuangan dalam menyuarakan islam dalam pentas persiapan dasar negara indonesia saat itu. Ki Bagoes pun  adalah pejuang sejati yang mengangkat senjata bersama laskar yang dibentuknya. Ia adalah salah satu ketua umum Muhammadiyah.
            bersama para ulama dari berbagai daerah, termasuk KH Wahid  Hasjim, ia menyuarakan dengan lantang perlunya indonesia menjadikan Islam sebagai dasar negara. Ia dengan keras menentang konsep negara sekuler yang dilontarkan kaum nasionalis. Dalam sidang badan penyelidikan usaha persiapan kemerdekaan indonesia (BPUPKI), Ki Bagoes menepis suara –suara miring yang yang menghawatirkan penerapan islam dalam kehidupan bernegara akan membehayakan persatuan negara nasional. Bahkan ia pun tidak setuju dengan poin pertama piagam jakarta yang memuat tujuh kata didalam. Menurutnya, kata ‘bagi pemeluknya’ harus dihapuskan. Ki Bagoes beralasan, islam bisa diterapkan bagi semua, baik muslim maupun non muslim. Sayangnya, perjuangan para ulama di level tertinggi negara yang baru merdeka ini pun kandas. Berbagai intrik, manuver, tipu daya, dilakukan oleh kalangan nasionalis sekuler agar islam tidak tampil dalam ranah negara.
Pengaburan sejarah
            Pasca kemerdekaan, sejarah perjuangan para ulama ini dikubur dan dikaburkan. Gambaran peran kaum muslim yang berjuang ratusan tahun melawan belanda dan penjajah lainnya dikerdilkan. Sejarah yang diajarkan kepada para siswa sekolah dibuat sedemikian rupa agar mereka tak lagi paham dan mengerti tentang peran umat islam dalam perjuangan. Baik pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Sebaliknya penguasa melalui sejarawan mereka, merkontruksi kembali sejarah sesuai dengan kepentingan politiknya.
            Resolusi jihad yang dikobarkan oleh tokoh NU KH Wahid Hasjim pun dikaburkan maknanya, tak lagi resolusi perang terhadap asing, malah dianggap resolusi untuk perbaikan diri. Yang menarik, ada upaya sistematis untuk memutuskan hubungan  TNI dari Islam. Ini ibarat memisahkan anak dari ibunya. Betapa tidak, dulu TNI itu lahir dari laskar-laskar pejuang . yang terbesar adalah Hizbullah, ada juga Sabilillah. Laskar-laskar ini adalah bentukan dari para ulama untuk melawan penjajah. Namun dalam sejarahnya, induk TNI ini pun dihilangkan seolah-olah TNI lahir begitu saja dari rakyat jelata. Dan yang lebih parahnya, ada doktrin musuh TNI yakni Ekstrim kanan yakni umat islam dan Ekstrim kiri yakni komunis. Bukan sebuah ketidaksengajaan, islam yang melahirkan TNI malah dianggap musuh. Doktrin itu sangat kental di era orde baru dan masih ada sampai sekarang.

Jasa umat islam
Biasa dibayangkan, jika penduduk negri ini bukan muslim. Pasti penjajah akan leluasa mendudukinya. Tidak dikenal dalam sejarah, adanya perlawanan kristen, hindu, dan budha terhadap penjajah barat. Kristen terutama, mereka adalah agama yang dibawa oleh negara barat. Sangat tidak mungkin komunitas kristen berhadapan dengan teman mereka sendiri. Mungkin saja ada tapi sifatnya individual. Fakta menunjukan, ratusan tahun penjajah di indonesia harus berhadapan dengan kaum muslim silih berganti. Mereka tak pernah lelah sedikitpun untuk mengusir orang-orang kafir in dari tanah kaum muslim yang kemudian menanamkan diriya indonesia.
Semangat perlawanan terhadap penjajah semakin berkobar dibawa kendali para ulama bukan para biksu, pendeta, atau pastor. Dan ini diakui oleh gubernur jendral inggris Raffles. Perjuangan kaum muslim tidak lain hanya didasari oleh akidah islam.tanpa itu, tak mungkin mereka mampu bertahan  berabad-abad lamanya.  Sayangnya, perjuangan tokoh-tokoh islam pada ujungnya kandas di tangan kaum nasionalis sekuler. Para nasionalis sekuler itu menolak islam atas dasar persatuan, kebebasan dan keberagaman. Mereka lebih mendengar suara-suara non muslim daripada mayoritas  muslim. Walhasil, perjuangan menegakkan syariah islam pada masa sekarang adalah wujud kecintaan umat kepada para  founding father’s. Jika dulu mereka belum berhasil mewujudkan islam sebagai dasar, sebagaimana disuarakan oleh Ki Bagoes, kini saatnya generasi berikutnya meneruskan perjuangannya demi kebaikan negri ini. Sudah terbukti, tanpa islam, negri ini terus terpuruk dan menjadi santapan penjajah gaya baru (neoimperealisme). Saatnya selamatkan indonesia dengan syariah islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar